Senin, 14 Mei 2012

Pembinaan Dan Pemupukan Bakat Melukis Bagi Anak-Anak


Pembinaan Dan Pemupukan Bakat Melukis Bagi Anak-Anak
Oleh Agus Purwantoro
Pada umumnya bila kita mengamati lukisan anak-anak, kesan yang ditimbulkan oleh sesuatu coretan-coretan tidak menentu kadang timbul lucu dan naif, bahwa coretan-coretan tersebut tidak pernah direncanakan sebelumnya akan tetapi merupakan akibat yang spontan dari ekspresi yang bebas dan goresan yang polos dengan bentuk-bentuk dan warna-warna yang selaras dengan kata hatinya. Kebebasan dan kemurnian yang dimiliki anak-anak sangat dominan baik dalam coretan, bentuk obyek, warna dan komposisinya, sehingga sering dikatakan bahwa seni lukis anak-anak merupakan lukisan yang paling murni karena belum terpengaruh seperti orang dewasa. Dibalik lukisannya itu bila kita perhatikan secara teliti akan kita dapati nilai-nilai artistik dan estetis bahkan mempunyai sifat-sifat dan ciri-ciri yang khas.  
Untuk membahas tentang seni lukis anak-anak sebagai upaya pembinaan dan pemupukan bakat melukis, Rudi Isbandi dalam bukunya “ Seni Lukis Anak-anak” ada ciri yang mendasari dan mendominasi dunia anak-anak yaitu :
  1. Adanya rasa kebahagiaan pada diri anak-anak, yaitu kondisi ketika bathin masih merasa tentram.
  2. Adanya kebebasan pada diri anak-anak, yaitu pada anak-anak tidak ada ketergantungan psikologis baik pada seseorang maupun kepada masyarakat tentang nilai-nilai, tentang kebenaran, tentang keindahan yang harus diikuti.
  3. Adanya subyek aku pada diri anak-anak, yaitu karena adanya kebahagiaan dan kebebasan dalam diri anak-anak secara total, maka diri menjadi lebih penting sekali, sehingga kepribadian dapat menentukan penuh.

Dengan adanya ketiga ciri tersebut diatas, kebahagiaan, kebebasan dan adanya subyek aku pada diri anak-anak, maka melukis bagi anak-anak merupakan pencerminan pribadinya dan sarana untuk mengekspresikan pikiran dan perasaannya dari kemurnian jiwanya. Melukis bagi anak-anak merupakan kegembiraan dan kepuasan tersendiri sehingga tercermin perkembangan dan pertumbuhan jiwa anak, melalui lukisan anak mulai menggembleng dirinya untuk percaya pada diri mereka sendiri dan berani mengungkapkan perasaan dan keinginan mereka.

Melukis bagi anak-anak merupakan bahasa untuk berfikir hal ini dapat diamati pada hasil-hasil dan proses pembuatannya. hasil akhir lukisan anak bukanlah sesuatu yang utama, yang terpenting adalah bagaimana anak dapat mengungkapkan dirinya sesuai dengan penghayatan dalam situasi dan keadaan tertentu.

Kepuasan berkarya pada anak-anak diperolehnya dari hasil keyakinan dirinya yang kemudaian berkembang sebagai dasar untuk meningkatkan kualitas hasil karyanya.

Kualitas hasil karya anak-anak akan lebih baik bila mendapatkan pembinaan yang lebih serius dari para pendidik seni rupa. Pembinaan seni lukis mencakup aspek psikologis yang berkaitan dengan perkembangan jiwa anak, tidak hanya secara rasional tetapi lebih banyak secara intuitif unsur perasaan dan emosi anak lebih besar dari penalarannya.

Perkembangan jiwa anak melalui melukis dapat menumbuhkan daya kreasi dan fantasi anak dan akan memperkaya imajinasi dan mengembangkan kreativitas dalam menyalurkan bakat -bakatnya.                                             

Penciptaan dan lingkungan
                                                                             
Dalam menciptakan lukisan atau menggambar biasanya ide muncul lebih dahulu, jadi apa yang hendak digambarkan itu sebelumnya sudah ada dalam jiwanya yang merupakan pengalaman yang lama maupun yang baru. Bertambah umur bertambah pula pengalamannya dari apa yang telah dilihatnya dan fantasi anak yang sedang berkembang, oleh sebab itu anak melukis apa yang ia ketahui bukan yang akan ia lihat, anak melukis karena adanya dorongan dalam jiwa untuk menyampaikan perasaan hatinya.

Sumber penciptaan bagi anak-anak pada dasarnya terdapat dua sumber :
1.      Pengaruh dari luar
2.      Pengaruh dari dalam

Pengaruh dari luar, sama sekali terikat dan bersumber pada alam realitas obyektif, tumbuh-tumbuhan, binatang, manusia dan sebagainya dalam bentuk cerita, sejarah atau peristiwa.

Sifat impresif ialah anak yang selalu ingin melukis alam di luar dirinya.

Pengaruh dari dalam, berisikan pengalaman bathin yang diperoleh dari pengamatan dan penglihatan sehari-hari berupa fantasi, dan fantasi bagi anak-anak merupakan kebutuhan yang sesuai dengan perkembangan pada umumnya terdorong karena keinginan kebebasan.

Sumber penciptaan dalam jiwa itu sendiri adalah dari pengalaman-pengalaman melihat sesuatu yang dihayati. Jadi yang diungkapkan adalah perasaan yang meluap-luap dari dalam kalbu lepas dari ketentuan teknik dan bentuk melainkan bagaimana suasana yang terjadi di dalam karyanya.

Lingkungan dalam bahasa inggris disebut Environtment, yang artinya : ac or of surrounding; all of the surrounding condition and influences that effect the development of living thing; a persons character is influenced by his environtment. sikap, kelakuan dan atau kenyataan dari lingkungan; semua dari kondisi lingkungan dan yang mempengaruhi mengenai perkembangan dari kehidupan satu hal; sifat orang-orang adalah dipengaruhi oleh lingkungan. Berdasarkan pengertian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa pengertian lingkungan adalah alam dan masyarakat yang berada di sekitar anak-anak.

Lingkungan mempunyai pengaruh yang besar terhadap lukisan anak-anak, obyek yang dilukiskannya akan tercermin dalam lukisan. Demikian pula dalam pengolahan warna seperti semua jalan digambar hitam, langit biru, rumput hijau, gunung meletus merah. Penggambaran emosional dari warna sering terlahir dalam karya anak sehingga hasilnya berbeda dengan obyek yang sebenarnya. Kepekaan anak dalam mengamati lingkungan dan kehidupan masyarakat di sekitarnya dapat menimbulkan kreativitas anak yang berbakat, kepekaan anak dan sifat kekanak-kanakan itu dapat menghasilkan gambar yang khas, unik dan menarik.

Kegiatan Kreatif dan Rekreatif

Dalam tahap pertama anak menggambar dengan garis dan bentuk dengan bermacam-macam variasi. Sebagai kegiatan kreatif biasa dilakukan dengan main-main atao coreng-moreng, dan apabila hasilnya dikatakan bagus mereka akan lebih bersemangat dan ingin mencoba lagi sampai bagus. Sebaliknya apabila dikatakan jelek maka semangat dan pertumbuhan kreativitasnya menjadi hilang. Pada lukisan anak-anak yang kreatif akan terlihat pada garis-garis dan warnanya yang tidak statis, biasanya dikerjakan dengan spontan.

Berbagai isi lukisan seakan muncul secara tiba-tiba tanpa direnungkan dan dipikirkan.

Lukisan menjadi indah karena unsur naif kekanak-kanakan yang masih terlihat, hal semacam ini sering muncul dalam setiap lomba. Ekspresi memegang peranan penting dalam kegiatan kreatif anak dari kebebasan inilah muncul jiwa yang kreatif, yang merupakan pencerminan pribadinya.

Pengungkapan rasa kreativitas dalam berkarya sangat dipengaruhi oleh ekspresi jiwanya yang merupakan realitas bentuk kreasi yang sesuai dengan nalurinya.

Anak-anak yang kreatif pada umumnya menghasilkan karya-karya yang ritmis, bebas dan kaya akan variasi akan pengalaman yang dialaminya sehingga mempunyai motivasi untuk berkarya secara kreatif.

Masa kanak-kanak adalah masa yang paling subur dalam pengembangan kreatifitas yang tidak terikat oleh aturan-aturan yang ada di masyarakat melahirkan ungkapan yang orisinil.

Disamping kegiatan kreatif bagi pengembangan bakat anak-anak, bagi anak-anak yang tidak berbakat sekalipun dapat sebagai kegiatan rekreatif atau hiburan dalam mengisi waktu atau sekedar main-main dengan media menggambar atau melukis.

Justru dengan kegiatan semacam inilah bagi anak-anak dapat memberi motivasi atau dorongan dalam belajar, bahkan menumbuhkan pola berfikir sehingga anak menjadi lebih peka dan cerdas. Kecendrungan untuk lebih kritis terhadap suatu masalah diperlukan dorongan baik dari lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat.

Pertumbuhan dan Ciri Lukisan Anak

Masa pertumbuhan ini sangat besar artinya bagi anak-anak bagi perkembangan jasmani, rohani maupun intelektualnya. Anak-anak dalam melukis mengalami pertumbuhan yang makin maju. Pada dasarnya pertumbuhan anak dan ciri lukisan anak dapat menjadi empat tahap :
1.      Masa coretan
2.      Masa bagan
3.      Masa pengamatan dan pernyataan yang lebih murni
4.      Masa ingin menggunakan perspektif.

Masa coretan
(kira-kira umur satu sampai tiga tahun). Sejak kecil anak selalu menggerak-gerak anggota badannya apabila bergerak dan dapat memegang alat maka mulailah mencoret atau menggores yang tanpa tujuan apa-apa lama-kelamaan menjadi terarah hal ini disebut masa coreng mencoreng.
Disamping belajar berbicara, hal ini merupakan kemampuan yang pertama yang dapat mencapai ke arah menggambar. Hasil dari coretan itu ialah berupa bintik-bintik atau garis yang bermacam arah, pada umumnya gambar itu merupakan tanda-tanda seperti diagram, garis lurus, lengkung, silang, lingkaran, segi empat segitiga dan sifatnya hanya menyusun atau mengkombinasikan.

Masa bagan
(kira-kira umur empat sampai tujuh tahun). Perubahan umur ini membawa arah menuju gambar yang lebih terarah, berdasarkan dari bentuk-bentuk yang telah dikuasainya. Obyek yang digambarkan oleh anak-anak berbeda karena faktor alam disekitarnya yang mempengaruhi berbeda-beda. Gambar belum menyerupai bentuk yang sebenarnya, baru berupa bagan akan tetapi anak itu telah menyebut nama dari gambarnya, berarti telah mengekspresikan idenya. Keberanian dan kebebasan sangat dominan sehingga belum mampu menciptakan wujud sesuai dengan kenyataan. Pada masa itu sifat gambar masih belum obyektif tetapi masih emosional untuk kepuasan diri sendiri.
Dorongan kebutuhan untuk meniru telah tampak sejak kecil meniru apa yang ia lihat, dengar dalam permainan peranan. Dorongan kebutuhan untuk mengulang telah ada sejak kecil sewaktu ia pandai berjalan atau mengulang sesuatu yang telah diciptakan.

Masa pengamatan dan pernyataan yang lebih murni
(kira-kira umur tujuh sampai sembilan tahun).    Kecendrungan anak bersifat kritis dan egois dalam segala perbuatan yang diliputi oleh pemikiran yang serba ingin tahu. Anak pada masa itu mengalami perkembangan yang luar biasa menggambar dengan terus terang, ia tidak mau menerima begitu saja. Pada taraf ini mereka sangat memperhatikan garis dan bentuk yang sangat artistik dan sederhana. dimana unsur garis lebih kuat untuk menyatakan bentuk garis artistik, dalam penggunaan warna dilakukan secara spontan menurut kesenangannya sendiri. Sifat kekanak-kanakan yang khas dan kejujurannya akan tetapi kebebasan kemampuannya terbatas oleh akalnya.

Masa ingin menggunakan perspektif
(kira-kira umur sepuluh sampai lima belas tahun). Anak lebih suka kepada kemungkinan-kemungkinan pernyataan real karena perlambangan intelektualnya, dan dipengaruhi oleh alat ekspresi lain dari pada menggambar, adalah bahasa. Anak-anak tidak puas dengan gambar anak-anak seperti dulu, ini cenderung kepada realitas baru (obyektif), ingin melihat gambar yang sewajarnya mereka sudah terpengaruh oleh kaidah dan norma teknik atau keindahan-keindahan, gambar obyektif itulah yang baik menurut anggapan mereka
pada tahap ini gambar tidak datar lagi walaupun untuk menyatakan ruang kadang-kadang tidak berhasil, tetapi telah dapat menunjukkan sifat-sifat perspektif.
Dari pertumbuhan anak tersebut dapat diberikan ciri-ciri lukisan anak-anak bahwa anak-anak melukiskan apa-apa yang menarik perhatian dan selebihnya seakan-akan tak penting. Adapun bentuk secara hakiki tak diperhatikan, meskipun pada masa akhir mereka perhatikan, mereka melukis apa yang mereka ketahui. Kecenderungan untuk mengulang pekerjaan berkali-kali. Benda-benda akan digambar berdampingan tetapi memencar, gambar seolah-olah tembus apa yang ada di dalam dilukisnya.
Sifat gambar datar untuk menunjukan dimensi ketiga dibuatnya dengan meletakan apa yang akan digambar itu agak keatas

Pembinaan dan Pemupukan

Upaya pembinaan dan pemupukan bakat melukis anak-anak, bukanlah merupakan tanggung jawab seniman saja akan tetapi merupakan tanggungjawab semua pihak baik seniman, pendidik, maupun orang tua. Mengingat pentingnya peranan pembinaan dan pemupukan bakat melukis bagi perkembangan pada dunia anak-anak. Disekolah-sekolah mulai dari taman kanak-kanak, sekolah dasar, SLTP dan SLTA, mata pelajaran menggambar atau melukis, perlu dipupuk agar dapat berkembang disamping kesenangan melukis sejak kecil supaya tidak hilang atau sia-sia.

Pelajaran menggambar atau melukis perlu mendapat perhartian yang benar, jangan hanya sebagai mata pelajaran tambahan saja yang sebenarnya sangat terkait dengan mata pelajaran lainnya. Bagi anak, fantasi anak yang luas dapat dipergunakan dalam pengajaran sangat penting artinya adalah untuk mengembangkan bakat ekspresi, perasaan, emosi, keindahan, kreatifitas dan lain-lain sebagainya. Apabila anak yang memiliki bakat tertentu tidak mendapatkan bimbingan yang baik untuk menyalurkannya, kemungkinan akan hilang atau macet, berarti pula kita akan kehilangan calon-calon seniman. Jadi upaya pembinaan dan pemupukan bakat melukis adalah untuk menggairahkan dan memajukan kesanggupan anak melukis menurut jalan yang sewajarnya dengan cara yang lazim dilakukan dan diberikan kebebasasan sesuai dengan perkembangan dan lingkungan mereka. Pendidikan bukan hanya mengembangkan kecerdasan otak saja tetapi juga mengembangkan emosi artistik dan estetis. Selain sebagai media ekspresi untuk menyalurkan isi hati dan pemupukan perkembangan kemampuan kreatif dan ketajaman perasaan mengenai keindahan yang sesuai dengan perkembangan jiwa anak-anak.

Selain pendidikan dilakukan di sekolah-sekolah, perlu diadakan kursus atau penataran untuk guru seni rupa di sekolah disamping sanggar atau perkumpulan seni atau semacam lomba dan pameran. Pembinaan dan pemupukan bakat ini perlu dipisahkan antara menggambar teknis dan menggambar ekspresi, sebab menggambar teknis tujuannya memperoleh kecakapan teknis menggambar, menguasai alat sedangkan menggambar ekspresi, tidak terikat oleh ketentuan-ketentuan teknis yang lebih mementingkan lahirnya cipta, rasa dan karyanya secara utuh. Pada umumnya menurut teori yang telah ada bukanlah hasil lukisan tersebut tetapi yang lebih penting adalah pekerjaannya itu sendiri. Alangkah baiknya apabila keduanya dapat dipadukan sehingga antara pekerjaan dan hasilnya sehingga anak mendapatkan kebebasan dalam mencipta.

Rabu, 18 Januari 2012

judul : pergi memancing

memancing adalah aktifitas yang meyenangkan dan tentunya pengalaman itu selau diingat oleh anak, jadi taidak ada kesuliatan untuk menuangkan ide gambar bagi anak tingagl kita suruh ceritkan saja lewat gambar

LUKISAN BUNGA cat acrylic

judul : bunga matahari
ukuran : 40 cm x 40cm
media : acrylic on canvas

 
judul : dekoratif bunga
ukuran : 40 cm x 40cm
media : acrylic on canvas



judul : anggrek bulan
ukuran : 40 cm x 40cm
media : acrylic on canvas


Selasa, 17 Januari 2012





karya sanggar lukis diwarnawarni

MENGASAH DENGAN SKETSA

MENGASAH DENGAN SKETSA
Unsur garis merupakan unsur utama dalam penciptaan sketsa, kekuatan garis menjadi sebuah nilai estetis dan kreatif. Pengertian sketsa sendiri adalah suatu denah atau rancangan gambar atau gambar yang dapat berdiri sendiri menjadi sebuah karya seni murni yang utuh yang dapat disejajarkan dengan karya lukis yang penuh warna. Hitam putih atau warna merupakan karya seni yang mewakili ekspresi dan kreativitas dari individu.
Bila mengamati proses pedidikan seni rupa yang berlangsung di lembaga pendidikan, sketsa menjadi sebuah dasar dalam menggambar. Sketsa melatih spontanitas, kepekaan menangkap obyek, kelenturan goresan akan terus terasah dengan sketsa sesuai dengan gaya pribadi masing-masing individu.
Tidak terkecuali pada anak-anak, sering dijumpai anak-anak yang memiliki kemampuan dalam menciptakan gambar (sketsa) dengan ide-ide yang luar biasa dan mereka mewarnai dengan caranya sendiri, karyanya dinamis, goresan menyiratkan nilai seni yang mungkin terabaikan oleh banyak orang karena tidak mengesankan karya yang rapi dan teratur. Seringkali mereka terpinggirkan dalam kancah perlombaan yang menginginkan keteraturan bentuk dan warna. Sehingga perlombaan sering melahirkan karya yang seragam, tidak menyiratkan karya anak-anak yang jujur.
Dengan kemampuan yang sesuai dengan usianya ketika anak lagi asik membuat sketsa seringkali orang tua mencari pembenaran sendiri tentang hasil karya anak. Yang tidak anatomislah, gambarnya tidak masuk akallah, padahal dari kesederhanaan bentuk itu, kreativitas terus berjalan pada sebuah cerita yang akan selalu memperolehnya selalu memperolehnya dari apa yang ada di sekitarnya. Lingkungan rumah, televisi, apa yang pernah dijumpai, tokoh idola atau kemungkinan-kemungkinan yang lain yang terkadang muncul begitu saja. Kesenangan pada sebuah tema (misalnya ultraman) akan melahirkan banyak karya dan sudah pasti dapat melatihnya untuk semakin mahir membuat atau menggambar.
Jangan pernah bosan untuk menggambar sketsa, galilah terus potensi yang ada pada anak kita, beri kesempatan untuk terus berkarya sehingga menjadi pribadi yang mandiri, memili karakter dan kreatif dalam hidup. Sebab hidup ini adalah milik orang yang kreatif dalam menghadapi segala persoalan.

Senin, 02 Januari 2012

Anak hobi “Corat Coret”?? ya… ini memang sudah sangat wajar. Anak seolah tidak mau melihat atau perkakas rumah “nganggur” lalu mereka pun membuat kreasi diatasnya. Wow.. orangtua pasti sangat kesal dibuatnya karena rumah menjadi kotor dan terkesan berantakan.
Pada dasarnya aktifitas ini berkaitan dengan perkembangan motorik halus anak. Anak mulai mengembangkan kemampuannya melakukan gerakan yang nantinya mengarah pada kemampuan anak menulis. Anak akan menuangkan kemampuannya atau kreasinya disembarang tempat. Corat-core juga merupakan bentuk kreatifitas yang mengekspresikan perasaan maupun pikirannya.
Solusi yang dapat dilakukan oleh orangtua :
1. Orang tua tidak perlu melarang anak corat coret. Sebab, melarang anak melakukan aksi corat core tersebut justru akan merugikan karena akan menghambat kreativitas, spontanitas dan keberanian anak untuk berekspresi. Disamping itu, corat coret dapat mengasah kemampuan motorik halus anak. Hanya saja, orangtua perlu membatasi, dimana anak boleh corat coret dan dimana saja tidak boleh corat coret. Agar kreatifitas anak dapat tersalurkan, orangtua dapat membeli alat tulis, perlengkapan melukis atau papan tulis, lalu arahkan anak untuk corat coret di media tersebut.
2. Memberikan hadiah atau reward ketika anak menunjukkan sikap tertib mau corat coret pada media yang telah disediakan. Dan jangan lupa memberikan teguran bila anak tetap senang corat coret di tembok
3. Dapat juga dengan melibatkan anak untuk membersihkan sendiri barang atau tempat yang telah dicoret coretinya. Dengan begitu anak akan melihat bagaimana kerja keras orangtua sekaligus merasakan sendiri betapa capeknya jika harus membersihkan sesuatu yang telah dikotorinya.