Seorang ibu mengeluh dinding rumahnya penuh coretan. Mulai dinding kamar tidur sampai ruang tamu habis dicoreti si kecil. Awalnya ia tak terlalu menghiraukan saat si kecil mulai beraksi. Apalagi coretan itu tidak terlalu kentara.
Tapi lama kelamaan, coretan itu semakin jelas, berwarna-warni dan semrawut. Hingga sang suami berseloroh, "Sepertinya wallpaper rumah kita motifnya berganti terus ya, Ma, dari hari ke hari. Kemarin benang kusut. Sekarang tambah lagi ada gambar anak ayam. Besok apa lagi, ya?"
Berikut ini delapan langkah agar si kecil tak suka mencoret-coret tembok, seperti saran Tia Rahmania MPsi, psikolog dari Klinik Kancil Kemang, Jakarta Selatan.
1. Sediakan selalu kertas gambar, papan tulis, pensil warna, krayon. Atau Anda juga bisa melapisi tembok dengan karton putih. Tempatkan semua peralatan tersebut di suatu pojok/ruang tertentu. Dengan begitu, ia merasa punya privasi bahwa pojok ini miliknya dan ia boleh melakukan apapun yang disenanginya tanpa harus mencoret-coret tembok.
2. Ajak si kecil menggambar di meja, bukan di lantai atau tempat tidur.
3. Anda dapat menggambar bersama-sama si kecil di papan tulis yang tersedia. Lakukan dengan gembira dan ceria, hal ini akan meninggalkan kesan senang sehingga anak setiap kali melihat papan tulis akan selalu senang dan lebih suka mencoret-coret di papan tulis yang ada.
4. Libatkan semua anggota keluarga. Gunakan warna-warna yang ceria untuk menghasilkan bentuk-bentuk. Ini akan menambah semangat anak dalam berkreasi.
5. Menggambar bentuk sambil bercerita. Jadi, tangan Mom bergerak untuk menghasilkan bentuk, mulut Mom pun bergerak untuk menghasilkan cerita yang menarik. Hal ini mendorong anak berimajinasi dan juga percaya diri mengeksplorasi banyak bentuk lain.
6. Jangan lupa untuk memberi pujian bila anak menampilkan karya coretan di papan tulis yang tersedia kendati coretan yang dihasilkan anak tidak sesuai wujudnya dengan tema yang ia katakan.
7. Bila Mom sejak awal melarang anak mencoret dinding, maka hari-hari berikutnya aturan itu harus terus diterapkan. Libatkan semua anggota kelurga untuk hal ini.
8. Jangan sekali-kali menghukumnya secara fisik seperti dipukul. Selain membuatnya merasa sakit secara fisik, juga ia tak tahu apa yang harus dilakukannya karena hukuman belum memberi tahu tentang perilaku apa yang baik.
Senin, 02 Januari 2012
karya original anak anak
T-shirt Lukis, adalah media penumbuh kreativitas anak, sekaligus penumbuh rasa bangga dan percaya diri anak terhadap hasil kreativitasnya sendiri. Satu set T-shirt Lukis ini terdiri dari 1 kaos (bisa pilih berbagai ukuran). Dilengkapi dengan sket lukisan, Cat anti luntur, palet dan kuasnya. Tinggal pilih kaos dengan sket lukisan sesuai selera, sang anak bisa mewarnai sendiri kaos yang bakal dipakainya. Kualitas pewarnanya terjamin, sehingga tak akan luntur saat dicuci
ini adalah hasil karya-karya anak sanggarlukis diwarnawarni
sebuah karya baik yang dihasilkan dari proses kreatif
selamat mencoba
Minggu, 01 Januari 2012
mengajarkan senirupa pada anak
1. Menggambar
Kegiatan coret mencoret adalah bagian dari perkembangan motorik dan anak sangat menyenangi kegiatan ini, sehingga kesempatan yang diberikan akan termotivasi membuat gambar.
Kegiatan menggambar merupakan salah satu cara manusia mengekspresikan pikiran-pikiran atau perasaan-perasaanya. Dengan kata lain, gambar merupakan salah satu cara manusia mengekspersikan pikiran-pikiran atau perasaan-perasaannya. Dengan kata lain, gambar merupakan salah satu bentuk bahasa.Ada 3 tahap perkembangan yang dapat dilihat berdasarkan hasil gambar dan cara menggambar:
Pertama, tahap mencoret sembarangan. Tahap ini biasanya terjadi pada usia 2-3 tahun. Pada tahap ini anak belum bisa mengendalikan aktivitas motoriknya sehingga coretan yang dibuat masih berupa goresan-goresan tidak menentu seperti benang kusut.Tahap kedua, juga pada usia 2-3 tahun, adalah tahap mencoret terkendali. Pada tahap ini mulai menyadari adanya hubungan antara gerakan tangan dengan hasil goresannya. Maka berubahlah goresan menjadi garis panjang, kemudian lingkaran-lingkaran.
Tahap ketiga, usia 3 – 4 tahun, pergelangan tangan sudah lebih luwes. Mereka sudah mahir menguasai gerakan tangan sehingga hasil goresan sudah lebih terbentuk.
Tujuan menggambar bagi anak :
1. Mengembangkan kebiasaan pada anak untuk mengekspresikan diri
2. Mengembangkan daya kreativitas
3. Mengembangkan kemampuan berbahasa
4. Mengembangkan citra diri anak
2. Melukis
Salah satu kebahagiaan terbesar dari pelukis bukan hanya kesenangan tetapi juga mendapatkan berbagai banyak pengalaman selagi mereka belajar melukis. Pelajaran melukis dapat diawali yang berusia 4-6 tahun atau usia TK. Media yang digunakan biasanya crayon, pencil, cat air, cat minyak.
Dalam pembelajaran melukis biasanya belajar sambil bercakap-cakap dengan temannya. Percakapan pertama mereka kebanyakan adalah tentang warna-warna yang mereka peroleh. Sambil bereksperimen dengan mencampurkan warna-warna, anak-anak itu bermain, bermain elemen seni ini dengan cara yang santai. Hal ini menjaga agar kuas dan semangat mereka tetap bekerja. Ini akan membuat mereka mengekspresikan sesuatu yang bersifat pribadi dalam lukisan.Berbeda dengan anak usia 7 dan 8 tahun, cirri khas kelompok umur mereka adalah dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan hidup mereka sendiri. Anak membuat lukisan tentang suasana hati, baik yang muram, sendu atau bersemangat dan lucu. Biasanya suasana hati mereka disampaikan oleh warna. Mereka belajar bagaimana warna pelengkap dan sejalan dapat membantu mengungkapkan ide.
3. Menjiplak
Sebelum membuat cetakan apapun, anak dapat menggunakannya untuk menjiplak. Mereka cukup menempatkan sehelai kertas putih diatas permukaan pelat dan dengan krayon, menggosok-gosokannya bahkan dengan keras untuk mendapatkan gambarannya. Mereka merasa teknik menjiplak cukup mengagumkan dan menggunakannya dengan banyak cara.
Koin-koin biasanya adalah favorit mereka. Koin adalah bahan yang sederhana dan mudah sekali didapat. Mereka dapat dengan mudah membuat banyak jiplakan yang berbeda dari obyek-obyek yang ditemukan di sekolah. Ini merupakan cara yang bagus untuk membuat peka pada dunia sekitar mereka.
4. Membentuk
Arti kata membentuk dapat dimaksudkan sebagai mengubah, membangun dan mewujudkan. Membentuk dalam kaitan kegiatan seni rupa adalah terjemahan dari kata dalam bahasa Inggris “modeling”. Umumnya bahan yang dipergunakan untuk kegiatan membentuk adalah bahan-bahan lunak seperti tanah liat, plastisin, malam lilin, dan sejenisnya. Tetapi dalam pengembangannya, selama tidak mengingkari maksud dari arti kata membentuk tadi, dapat dipergunakan bahan-bahan lain seperti kertas, karton atau bahan-bahan lembaran yang sekiranya dapat dibentuk.
Bahan yang tidak pernah cukup bagi mereka adalah tanah liat. Mereka tidak bosan dengan bahan yang lengket, basah dan bisa dibentuk sesuai keinginan mereka. Mereka suka menyentuh tanah liat, untuk merasakan sensualitasnya.
Kegiatan coret mencoret adalah bagian dari perkembangan motorik dan anak sangat menyenangi kegiatan ini, sehingga kesempatan yang diberikan akan termotivasi membuat gambar.
Kegiatan menggambar merupakan salah satu cara manusia mengekspresikan pikiran-pikiran atau perasaan-perasaanya. Dengan kata lain, gambar merupakan salah satu cara manusia mengekspersikan pikiran-pikiran atau perasaan-perasaannya. Dengan kata lain, gambar merupakan salah satu bentuk bahasa.Ada 3 tahap perkembangan yang dapat dilihat berdasarkan hasil gambar dan cara menggambar:
Pertama, tahap mencoret sembarangan. Tahap ini biasanya terjadi pada usia 2-3 tahun. Pada tahap ini anak belum bisa mengendalikan aktivitas motoriknya sehingga coretan yang dibuat masih berupa goresan-goresan tidak menentu seperti benang kusut.Tahap kedua, juga pada usia 2-3 tahun, adalah tahap mencoret terkendali. Pada tahap ini mulai menyadari adanya hubungan antara gerakan tangan dengan hasil goresannya. Maka berubahlah goresan menjadi garis panjang, kemudian lingkaran-lingkaran.
Tahap ketiga, usia 3 – 4 tahun, pergelangan tangan sudah lebih luwes. Mereka sudah mahir menguasai gerakan tangan sehingga hasil goresan sudah lebih terbentuk.
Tujuan menggambar bagi anak :
1. Mengembangkan kebiasaan pada anak untuk mengekspresikan diri
2. Mengembangkan daya kreativitas
3. Mengembangkan kemampuan berbahasa
4. Mengembangkan citra diri anak
2. Melukis
Salah satu kebahagiaan terbesar dari pelukis bukan hanya kesenangan tetapi juga mendapatkan berbagai banyak pengalaman selagi mereka belajar melukis. Pelajaran melukis dapat diawali yang berusia 4-6 tahun atau usia TK. Media yang digunakan biasanya crayon, pencil, cat air, cat minyak.
Dalam pembelajaran melukis biasanya belajar sambil bercakap-cakap dengan temannya. Percakapan pertama mereka kebanyakan adalah tentang warna-warna yang mereka peroleh. Sambil bereksperimen dengan mencampurkan warna-warna, anak-anak itu bermain, bermain elemen seni ini dengan cara yang santai. Hal ini menjaga agar kuas dan semangat mereka tetap bekerja. Ini akan membuat mereka mengekspresikan sesuatu yang bersifat pribadi dalam lukisan.Berbeda dengan anak usia 7 dan 8 tahun, cirri khas kelompok umur mereka adalah dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan hidup mereka sendiri. Anak membuat lukisan tentang suasana hati, baik yang muram, sendu atau bersemangat dan lucu. Biasanya suasana hati mereka disampaikan oleh warna. Mereka belajar bagaimana warna pelengkap dan sejalan dapat membantu mengungkapkan ide.
3. Menjiplak
Sebelum membuat cetakan apapun, anak dapat menggunakannya untuk menjiplak. Mereka cukup menempatkan sehelai kertas putih diatas permukaan pelat dan dengan krayon, menggosok-gosokannya bahkan dengan keras untuk mendapatkan gambarannya. Mereka merasa teknik menjiplak cukup mengagumkan dan menggunakannya dengan banyak cara.
Koin-koin biasanya adalah favorit mereka. Koin adalah bahan yang sederhana dan mudah sekali didapat. Mereka dapat dengan mudah membuat banyak jiplakan yang berbeda dari obyek-obyek yang ditemukan di sekolah. Ini merupakan cara yang bagus untuk membuat peka pada dunia sekitar mereka.
4. Membentuk
Arti kata membentuk dapat dimaksudkan sebagai mengubah, membangun dan mewujudkan. Membentuk dalam kaitan kegiatan seni rupa adalah terjemahan dari kata dalam bahasa Inggris “modeling”. Umumnya bahan yang dipergunakan untuk kegiatan membentuk adalah bahan-bahan lunak seperti tanah liat, plastisin, malam lilin, dan sejenisnya. Tetapi dalam pengembangannya, selama tidak mengingkari maksud dari arti kata membentuk tadi, dapat dipergunakan bahan-bahan lain seperti kertas, karton atau bahan-bahan lembaran yang sekiranya dapat dibentuk.
Bahan yang tidak pernah cukup bagi mereka adalah tanah liat. Mereka tidak bosan dengan bahan yang lengket, basah dan bisa dibentuk sesuai keinginan mereka. Mereka suka menyentuh tanah liat, untuk merasakan sensualitasnya.
![]() |
| Add caption |
Langganan:
Postingan (Atom)







